Workshop Penguatan Kompetensi Numerasi bagi Guru Bersama Penemu Vaksin Matematika

Sumenep — Yayasan Prisma Cahaya Bangsa sukses menyelenggarakan program perdana bertajuk Workshop Penguatan Kompetensi Numerasi bagi Guru Bersama Vaksin Matematika pada Rabu, 4 Maret 2026, mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai. Kegiatan ini berlangsung di Jalan Anggrek Blok HH Nomor 12, Sumenep, dan menjadi momentum awal komitmen yayasan dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan, khususnya penguatan numerasi guru kelas 6 dalam menyongsong Tes Kompetensi Akademik (TKA) 2026.

Sambutan dan Arahan Kepala Bidang GTK

Workshop ini menghadirkan narasumber tunggal, Dr. Herman Syafri, M.Pd., inovator penemu konsep Vaksin Matematika sekaligus dosen senior di Universitas Pendidikan Indonesia. Kehadiran beliau menjadi daya tarik utama kegiatan, mengingat kiprahnya dalam pengembangan model pembelajaran numerasi yang kreatif dan aplikatif.

Acara dibuka secara resmi oleh Kabid GTK Kabupaten Sumenep, Akhmad Fairusi, S.Pd., M.A.P. selaku pembina yayasan bidang pendidikan. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan kisah pertemuan pertamanya dengan narasumber yang menginspirasi terselenggaranya workshop ini. Ia juga menegaskan pentingnya persiapan matang bagi peserta didik kelas 6 dalam menghadapi TKA 2026, sehingga guru perlu dibekali strategi pembelajaran numerasi yang efektif, inovatif, dan berdampak langsung pada peningkatan kemampuan berpikir siswa. Selain itu, ia juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada Ketua Yayasan Prisma Cahaya Bangsa, Salamet Herianto, S.Pd.,M.Pd. atas suksesnya acara tersebut.


Dr. Herman Syafri membuka dengan motivasi

Memasuki sesi inti, Dr. Herman Syafri membuka materi dengan praktik model pembelajaran Jigsaw secara menarik dan interaktif. Suasana ruang workshop berubah menjadi aktif dan dinamis ketika para guru langsung dilibatkan dalam simulasi. Model Jigsaw yang dipraktikkan menekankan bahwa setiap peserta didik harus menjadi “ahli” dalam bagiannya masing-masing, sehingga tidak boleh ada satu pun siswa yang tertinggal atau tidak mampu berkontribusi. Menurut beliau, minimal guru perlu mempraktikkan model Jigsaw sebanyak sepuluh kali agar potensi dan “kesaktian” peserta didik benar-benar muncul. Ia mengingatkan dengan kalimat yang menggugah, “Bukankah yang akan berperang murid? Bukan gurunya.”

Dalam praktik model tersebut, narasumber juga menyisipkan soal-soal TKA sebagai bagian dari strategi integratif. Hal ini selaras dengan tujuan utama workshop, yakni mempersiapkan guru kelas 6 agar mampu membimbing peserta didik menghadapi TKA 2026 dengan pendekatan yang lebih bermakna dan tidak menakutkan.

Pada sesi berikutnya, Dr. Herman mengajak peserta merefleksikan bagaimana matematika sering kali dianggap menyeramkan karena pendekatan yang keliru. Ia menekankan bahwa matematika seharusnya menjadi proses membangun konsep, bukan sekadar menghafal rumus atau prosedur. Untuk memperjelas gagasannya, beliau menganalogikan pemahaman konsep dengan kisah enam orang buta yang mengenal gajah. Masing-masing memiliki gambaran berbeda sesuai bagian yang diraba, namun karena keterbatasan pemahaman, mereka menganggap itulah bentuk keseluruhan gajah. Demikian pula dalam matematika, perbedaan cara pandang dapat melahirkan pemahaman yang beragam terhadap satu konsep yang sama.

Ia kemudian memberikan contoh sederhana namun filosofis: apa bedanya 4+1 dengan 2+3? Keduanya sama-sama menghasilkan angka 5, tetapi proses berpikir di baliknya berbeda. Perbedaan proses berpikir inilah yang menjadi inti dari lahirnya konsep Vaksin Matematika. Sebagaimana satu orang dapat memiliki sebutan berbeda seperti ayah, suami, dan om dalam konteks relasi yang berbeda, demikian pula satu hasil matematika dapat dicapai melalui beragam cara berpikir yang sah dan bermakna.

Pada bagian ketiga, narasumber memandu simulasi numerasi melalui permainan edukatif yang memancing kreativitas dan kolaborasi. Para peserta tampak sangat antusias mengikuti setiap tahap, berdiskusi aktif, dan mencoba langsung strategi yang dipaparkan. Pendekatan permainan ini memperlihatkan bahwa numerasi dapat diajarkan dengan suasana menyenangkan tanpa mengurangi kedalaman konsep.

Salah satu kit permainan numerasi HOTS

Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama yang baik antara Yayasan Prisma Cahaya Bangsa dan Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep. Workshop Penguatan Kompetensi Numerasi bagi Guru dalam rangka menyongsong Tes Kompetensi Akademik (TKA) 2026 difasilitasi dan didanai penuh oleh Konsorsium Pustaka Merdeka Madura. Sinergi ini diharapkan menjadi awal dari berbagai program peningkatan kompetensi guru yang berkelanjutan di Kabupaten Sumenep.

Sebagai program perdana, workshop ini tidak hanya menjadi ruang transfer pengetahuan, tetapi juga momentum kebangkitan semangat baru dalam pembelajaran matematika. Yayasan Prisma Cahaya Bangsa menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan program-program strategis yang berdampak nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan di daerah.  

Kit permainan numerasi

Acara tersebut berlangsung atas kerjasama yang baik, Yayasan Prisma Cahaya Bangsa dan Dinas Pendidikan Kabupateb Sumenep. Workshop Penguatan Kompetensi Numerasi bagi Guru dalam rangka menyongsong Tes Kompetensi Akademik (TKA) 2026 difasilitasi dan didanai penuh oleh Konsorsium Pustaka Merdeka Madura. (Sh). 

#WorkshopNumerasi #VaksinMatematika #HermanSyafri #YayasanPrismaCahayaBangsa #TKA2026 #GuruKelas6 #PenguatanNumerasi #Sumenep #UPI #PendidikanIndonesia

Posting Komentar

0 Komentar